Bobol Transaksi Elektronik, Riky Beli Mobil dan Rumah

editor -3 views

MEDAN – Sidang kasus pembobolan uang milliaran rupiah melalui sistem transaksi elektronik Top Up LinkAja kembali disidangkan dengan menghadirkan tiga orang terdakwa yang berlangsung di ruang Cakra VIII Pengadilan Negeri Medan, Jum’at (26/6/2020), dalam persidangan yang berlangsung secara online.

Ketiganya yakni, Riky H alias Ridwan (30), Jonny Chermy (33) dan Alianto (29) dalam berkas terpisah. Untuk sidang kali ini penuntut umum, Nurhayati menghadirkan empat saksi untuk terdakwa Riky. Keempat saksi tersebut membenarkan telah bertransaksi jualbeli rumah dan mobil dengan Riky.

Dalam kesaksiannya, Herbeth selaku Marketing Bipostar Finance dan Ernawati yang merupakan karyawan showroom mobil di Jalan Krakatau Medan membenar bahwa terdakwa Riky melakukan transaksi jualbeli mobil secara kredit atas kendaraan Minibus jenis Mitsubishi Expander pada 2019 lalu.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim Immanuel Tarigan, Herbeth maupun Ernawati mengaku bahwa terdakwa Riky telah membayar Dp senilai Rp68 juta dengan nominal cicilan perbulan senilai Rp7 juta degan masa pembayara selama 2 tahun.

Namun Herbeth menuturkan terdakwa baru membayar tiga kali hingga mobil tersebut disita sebagai barang bukti di Kejari Medan.

Sementara itu dalam persidangan tersebut dua saksi lain dari pihak marketing perumahan Maryland District 88 di Jalan Marelan Tanah 600 menyampaikan perbedaan pernyataan soal transaksi yang dilalukan dengan terdakwa Riky.

Saksi Charles selaku pemilik lahan perumahan Maryland District 88 mengaku tidak mengetahui soal transaksi karena menurutnya telah dilimpahkan kepada karyawannya Edy Tan.

Dikatakannya ia baru mengetahui adanya masalah terkait uang yang dipergunakan Riky yang merupakan hasil dari kejahatan perbankan itu setelah pihak Mabes Polri mendatanginya. “Jadi setahu saya rumah itu telah selesai pembayaran cicilan dan itu adalah milik Riky,” ujarnya.

Sedangkan saksi Edy mempertegas dan membenarkan adanya soal transaksi antara pihaknya dengan terdakwa Riky soal jual beli rumah berlantai 2 di Maryland.

Namun pernyataan Edi dinilai majelis bersifat asumsi karena Edi mengaku yakin Riky berkemampuan karena bekerja di Asuransi. “Namanya pegawai asuransi orang kaya-kaya,” ucap Edi.

Mendengar hal itu, Ketua majelis Immanuel Tarigan meminta saksi mencabut pernyataannya.

“Jangan anda berdalih dengan pernyataan tersebut untuk menutupi kelalaian dari pihak properti, seharusnya pihak anda melakukan pengecekan sebelum melakukan transaksi. Inilah akibat mau mencari untung tanpa koreksi sehingga apa yang telah dibayarkan itu tidak sah karena uang itu bersumber dari hasil kejahatan perbankan,” ucap Ketua Majelis Hakim.

Usai mendengarkan kesakaian keempat saksi untuk terdakwa Riky, majelis hakim menunda persidangan untuk dilanjutkan kembali, Selasa (30/06/20) dengan agenda mendengar kesaksian dari pihak ahli IT perbankan.

Dalam kasus tersebut terdakwa Riky dan dua terdakwa lainnya, Alianto dan Jonny Chermy melakukan pembololan uang bank menggunakan sistem transaksi elektronik Top Up LinkAja berhasil meraup uang sebesar Rp1.152.000.000.(aac)

Berikan Komentar