Club Moge Keroyok 2 Anggota TNI, Terungkap Polantas Coba Melerai

oleh -24 views
Anggota Polantas Brigadir Muhammad Hafiz Basari coba melerai saat pengeroyokan 2 anggota TNI
Anggota Polantas Brigadir Muhammad Hafiz Basari coba melerai saat pengeroyokan 2 anggota TNI

Medan|MediatorPost:  Pengeroyokan 2 Anggota TNI oleh para anggota Club Moge atau Klub Harley Davidson, yang kasusnya kini ditangani Polres Bukit Tinggi dan telah menetapkan 5 tersangka, adalah berinisial  MS (49 ), B (18 ), dan HS (48) juga JAD (26) serta TR (33).

Belakangan terungkap kalau pengeroyokan terhadap 2 Anggota TNI itu, Anggota Patwal Satlantas Muhammad Hafiz Basari yang mengawal konvoi moge klub HOG Siliwangi Bandung Chapter dalam turing Long Way Sumatra Island itu telah berupaya melerai.

Meski Polantas yang terbilang terlambat datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), namun aksinya langsung memeluk anggota TNI usai dihajar klub moge yang megamuk.

Saat aksi pengeroyokan terhadap anggota TNI Kodim 0304/Agam, Sumatera Barat, yang terekam kamera pengawas atau CCTV toko butik di Simpang Tarok, Kota Bukittinggi, diketahui bahwa polisi sempat berusaha melerai keributan.

Namun, kendati polisi sudah berusaha melerai, anggota klub moge tersebut terus menghajar anggota TNI yang tidak berseragam. Bahkan, ibu pemilik toko sudah memohon untuk berhenti. Akan tetapi, tidak digubris oleh anggota klub moge, dan  terus menghajar Serda Mistari yang lari menuju toko.

Kapolres Bukittinggi AKBP Dody Prawiranegara mengakui bahwa polisi sudah berusaha melerai aksi brutal anggota klub moge tersebut. “Justru sudah dilerai,” kata Dody saat dihubungi, kru media, Senin (2/11/2020).

Lebih jauh dikatakannya, Polantas yang terekam kamera pengawas CCTV tersebut adalah Brigadir Muhammad Hafiz Basari yang bertugas di Satuan Lalu Lintas Polres Bukittinggi.

Dari kejadian itu, Hafiz diketahui persis berada di belakang dengan mengendarai mobil mengiringi iringan club moge. “Saat kejadian, saya patwal pakai mobil di belakang iring-iringan,” jelas Hafiz, kepada, Kompas.com, Selasa (3/11/2020).

Menurut Hafiz, dia datang terlambat ke lokasi kejadian. Korban Serda M Yusuf sudah tergeletak di lantai dan Serda Mistari dikejar oknum anggota Moge ke dalam toko. “Saya datangnya terlambat. Saya patwal di belakang. Jalan macet dan saya turun lihat ada kejadian itu,” kata Hafiz.

Setelah turun, ia melihat Serda M Yusuf sudah tergeletak setelah dikeroyok oknum anggota moge. “Saya lerai dan peluk korban. Kemudian saya lihat satu orang lagi (Serda Mistari) dikejar. Saya ikut kejar dan melerainya,” jelas Hafiz.

Menurut Hafiz, saat itu ada beberapa orang oknum moge yang mengejar Serda Mistari. Kemudian, ia langsung melerainya sambil berteriak minta dihentikan. “Sudah, sudah, jangan, jangan,” kata Hafiz menirukan ucapannya waktu itu. Saat kejadian itu, Hafiz sempat didorong-dorong oknum anggota moge tersebut.

Anggota moge tersebut masih melayangkan pukulan ke arah Serda Mistari yang berada di belakangnya. “Saya didorong-dorong. Saya minta hentikan. Di samping saya, juga ada ibu-ibu yang memohon untuk dihentikan,” kata Hafiz.

Setelah beberapa saat, kata Hafiz, oknum anggota klub moge tersebut akhirnya pergi juga. Setelah oknum moge itu pergi, Hafiz berusaha menolong korban dan menanyakan kronologi kejadian. “Saat itu korban mengatakan tidak menerima kejadian itu dan akan melapor ke Dandim,” kata Hafiz.

Saat itu, menurut Hafiz, ia baru mengetahui bahwa korban adalah anggota TNI. Kemudian, Hafiz menghubungi polisi militer. Di saat itulah, Hafiz tidak melihat korban lagi. “Saya baru tahu korban adalah tentara. Saya telepon PM, setelah itu saya tidak melihat lagi korban,” kata Hafiz.

Terpisah, Kapolres Bukittinggi AKBP Dody Prawiranegara mengatakan, hingga saat ini pihaknya sudah menetapkan lima tersangka dalam kasus pengeroyokan terhadap anggota TNI. Awalnya, tersangka hanya dua orang, yaitu MS (49 ) dan B (18 ). Kemudian, kemarin bertambah dua orang lagi, HS (48) dan JAD (26). Belakangan yang ditetapkan adalah, TR (33) anggota klub moge asal Garut, Jawa Barat.

Polisi juga telah mengirimkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus pengeroyokan dua personel TNI oleh anggota Moge Harley Owners Group Siliwangi Bandung Chapter (HOG SBC) ke Kejaksaan.

Sebanyak lima orang anggota klub tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus tersebut. “SPDP-nya sudah diserahkan kemarin, Senin (2/11/2020) oleh Kapolres Bukittinggi ke Kejaksaan.

Malahan didampingi Dandim 0304/Agam juga,” kata Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, Selasa (3/11/2020).

Stefanus mengatakan, polisi sangat serius menangani kasus tersebut. Apalagi kasus tersebut saat ini sudah menjadi sorotan nasional. “Kalau ada yang berpikiran polisi tidak serius tangani kasus ini, itu salah. Polisi sangat serius,” jelas Stefanus.

Masih seputar kejadian itu, di media sosial sebuah video menjadi viral yang memperlihatkan aksi penyisiran atau sweeping terhadap pengendara motor gede (moge) di Bukittinggi, Sumatera Barat, menjadi viral.

Video tentang sweeping moge tersebut menyebar tak lama setelah kejadian pengeroyokan terhadap anggota TNI oleh para anggota klub moge.

Dalam unggahan akun Facebook Kaba Bukittinggi, Senin (2/11/2020), disebutkan bahwa Markas Cabang Laskar Merah Putih Kota Bukittinggi melakukan penyisiran/sweeping moge di SPBU Bangkaweh, Ladang Laweh, Banuhampu, Agam, Sumbar.

Selain itu, terdapat keterangan bahwa Laskar Merah Putih Kota Bukittinggi meminta agar klub moge tidak keluar dari Bukittinggi hingga ada kejelasan proses hukum terkait pengeroyokan dua anggota TNI di Simpang Tarok, Bukittinggi, pada Jumat (30/10/2020).

Selain tulisan, akun itu juga mengunggah sebuah video berdurasi 53 detik yang berisi adegan penyisiran atau razia moge di SPBU tersebut. “Izin mas, kita dari Laskar Merah Putih ini, terkait permasalahan yang terjadi kemarin,” kata seorang lelaki dalam video itu kepada seorang pengendara sepeda motor.

Mendengar dirinya disapa, pengendara Moge tersebut memberi hormat dan kemudian mengklarifikasi bahwa kendaraannya bukan Harley Davidson. “Oh ini bukan Harley Bang,” jawabnya. Kemudian, terjadi tanya jawab. “Jadi Mas dari mana ini?” tanya anggota ormas tersebut.

Aksi interogasi itu berlanjut hingga pengendara sepeda motor itu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkannya ke salah seorang anggota ormas.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumbar Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto mengakui sudah mengetahui aksi sweeping tersebut. Stefanus berharap ormas tersebut dapat menahan diri dan tidak menimbulkan konflik nantinya.

“Iya, kita berharap mereka menahan diri dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan nantinya,” kata Stefanus. (Rep-Kompas.com/in).

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *