Diteror, Sinaga Didampingi LBH IPK Bikin Laporan ke Polda Sumut   

editor -328 views

MEDAN | Masih ingat…! Pembunuhan raja adat di Samosir adalah alm. Rianto Simbolon  (RS), warga Dusun I Sosor Simbolon Desa Sijambur, Kecamatan Ronggurnihuta, Samosir, pada 9 Agustus 2020 beberapa pekan lalu,  yang kemudian Polres Samosir menangkap 4 tersangka, namun 2 lainnya masih  buron.

Kini terhadap keluarga korban pembunuhan, salahsatunya Eron Sinaga  (ES), 31malah diteror. Mirisnya, kejadian yang membuat diri dan kelurganya was-was alias ketakutan itu dialami sejak prosesi pemakaman korban pembunuhan usai dilaksanakan.

Tak anyar, pihak keluarga didampingi kuasa hukum Lembaga Bantuan Hukum Ikatan Pemuda Karya (LBH IPK) membuat alias bikin laporan ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut), jumat (28/8/2020).

“Setelah korban (RS) dimakamkan, malamnya sudah ada kejadian yang enggak biasa terjadi. Sepeda motor sering patroli-patroli di depan rumah kita dan berhenti, jadikan kita takut keluar,” kata Eron Sinaga didampingi kuasa hukumnya LBH IPK Dwi Ngai Sinaga SH MH, kepada wartawan, usai membuat laporan, di Polda Sumut.

Tak sampai di situ, lanjut Eron Sinaga, teror dari orang tak dikenal (Otk) yang kerap lalu lalang melintas dan berhenti di depan rumah keluarga, juga memutuskan kabel lampu listrik yang berada di depan rumah.

“Habis pemakaman kan rumah kami sepi, dan sejak mulai teror dilancarkan Otk. Kami berinisiatif  dengan membuat penerangan sekitar lingkungan rumah,  tujuannya biar nampak orang yang menteror, Tapi malah lampunya pun kabelnya diputus,” ungkapnya.

Eron menjelaskan sampai saat ini ia dan keluarga belum mengetahui identitas orang yang kerap kali melintas di kawasan rumahnya dan keluarga. Namun ia hanya mengetahui satu sepeda motor tanpa plat yang sering berhenti tengah malam di depan rumahnya.

“Kita lihat dari celah-celah rumah itu, sepeda motornya berhenti di depan rumah kita. Kita perhatikan plat sepeda motornya enggak ada. Berartikan memang disengaja, platnya enggak ada bahkan sepeda motornya pun bodi-bodinya semua sudah dibukai, cuma rangka,” tutur Eron.

Dia juga merinci kalau persoalan teror tersebut sudah pernah disampaikan kepada Penyidik Polres Samosir, namun pihak Polisi belum memberikan keterangan kenapa hingga kini dua pelaku lagi belum ditangkap.

“Kalau dihubungi penyidiknya, enggak pernah menjawab, saya telpon berhari-hari enggak pernah diangkat,” ungkapnya.

Sementara kuasa hukumnya Dwi Ngai Sinaga SH MH mengatakan, diambilnya langkah membuat laporan ke Polda Sumut tersebut, merupakan upaya untuk menjaga jika ke depan terjadi sesuatu terhadap keluarga korban pihak kepolisian sudah mengetahuinya terlebih dahulu.

Selanjutnya, dengan laporan di Polda Sumut tersebut diharapkan institusi kepolisian lebih getol lagi menangkap 2 buronan itu, apalagi perbuatan teror yang diduga dilakukan buronan tersebut terbilang sudah tidak manusiawi.

Informasi diperoleh, Eron yang didampingi kuasa hukumnya, Dwi Ngai Sinaga SH MH selain melaporkan teror terhadap dirinya dan keluarga, juga melaporkan dua pelaku lain yang belum diamankan oleh Polres Samosir. (Nanda).

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *