Ekonomi Indonesia Zona Negatif, Sri Mulyani: 2021 Belum Full Power

editor -30 views
Sri Mulyani
Sri Mulyani

Jakarta | Pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi berada di zona negatif pada triwulan III dan triwulan IV 2020. Bahkan  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pemulihan ekonomi hingga semester I 2021 belum akan berlangsung maksimum.

Lantaran, penyebaran Covid-19 diperkirakan masih membayangi dunia pada paruh pertama tahun depan, sehingga diperkirakan pada tahun depan pertumbuhan ekonomi belum full power.  

“Pada semester I tahun depan kita tidak bisa mengasumsikan pemulihan yang full power karena pasti covid masih akan jadi salah satu faktor yang menahan pemulihan konsumsi, investasi, maupun pemulihan ekonomi global,” ujar Sri Mulyani dalam rapat bersama Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, (2/9/2020).  

Sri Mulyani mengatakan ketidakpastian akibat Covid-19 masih akan terjadi lantaran vaksinasi dari virus tersebut diperkirakan baru akan meluas pada semester II 2021. Sehingga perekonomian tahun depan akan sangat bergantung kepada pemulihan ekonomi pada paruh kedua. “Ini memberi pengaruh seberapa tinggi pemulihan 2021,” ujarnya. 

Pemerintah mengasumsikan pertumbuhan ekonomi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara2021 pada kisaran 4,5-5,5 persen. Angka tersebut telah mempertimbangkan pemulihan ekonomi pada tahun ini yang sudah terjadi namun belum maksimum lantaran pagebluk yang belum berakhir.  

“Jadi karena pengaruh Covid-19 belum sepenuhnya akan hilang di semester I tahun depan, kami prediksi pemulihan tidak akan strong full power. Semester 2 kami bisa mengharapkan kalau vaksinasi sudah bisa dilakukan dan bisa memberi confidence,” tutur Sri Mulyani.

Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi masih berada di zona negatif pada triwulan III dan triwulan IV 2020. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada level minus 5,3 persen. 

“Lower end, dari prediksi kami menunjukkan di kuartal ketiga kita mungkin masih mengalami negatif growth dan bahkan kuartal empat masih dalam zona sedikit di bawah netral,” ujar Sri Mulyani.

Ia berujar bahwa dengan bacaan dan analisis yang dilihat pada kuartal II 2020, khususnya pada aktivitas ekonomi, Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini berada di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

“Kalau 0,2 persen itu kami mengasumsikan di kuartal III dan kuartal IV recovery bsia terjadi lebih untuk mengkompensasi kontraksi yang dalam di kuartal II,” kata dia. (rep/temp)

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *