Pick Up Hilir Mudik, Rumah Warga Seirotan Diduga Tempat Oplos Elpiji

editor -35 views
Foto: Illustrasi
Foto: Illustrasi

PEMANDANGAN tak lazim berupa hilirmudiknya pick up bermuatan elpiji tabung 3 Kg, 12 Kg dan 50 Kg, di salahsatu rumah berinisial SY, warga Desa Seirotan Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deliserdang, patut dicurigai jadi sarang oplosan elpiji subsidi.

Apalagi dari rumah yang berukuran sekira 7x 30 meter, tak terlihat plang bertuliskan sebagai pangkalan elpiji, bahkan plang keterangan lainnya sebagai perusahaan yang merupakan distributor bin agen Elpiji Pertamina juga tak tampak.

Padahal ratusan elpiji tabung 3 Kg milik pertamina yang berwarna hijau muda atau elpiji subsidi terlihat keluar masuk diangkut menggunakan kendaraan PickUp dan becak. Begitu juga tabung elpiji 12Kg dan 50 Kg keluar dan masuk dari rumah yang berpagar kuning ke coklat-coklatan itu.

Sekilas memang, dari depan rumah tak tampak jelas, kalau di situ ada penimbubunan elpiji milik pemerintah, sebab begitu tabung elpiji masuk dari pelataran rumah, ada tiga ruangan, persis di sebelah kanan jika masuk ke pelataran rumah tersebut yang dijadikan tempat penyimpanan tabung elpiji.

Dan rapinya lagi, tiga ruangan di pelataran rumah tersebut tak terkesan sebagai gudang penimbunan, melainkan mirip toko yang berjajar rapi dengan pintunya bermotif Rolling Door Bluescope atau pintu krey berwarna putih.

Bukan itu saja, persis di belakang rumah tampak ada gudang yang terbilang besar dan bangunannya melintang dari ukuran rumah, serta tersambung ke rumah induk.

Kemudian pintu untuk masuk ke gudang tersebut tak dari pelataran rumah, namun dari samping rumah induk, persisnya masuk melalui gang yang lebar gangnya bisa dilintasi mobil.

Dari lingkungan sekitar diperoleh keterangan salahseorang sumber yang namanya minta tidak dibubuhkan mengatakan, kalau rumah tesebut merupakan sarang pengoplosan subsidi.

“SY itu pemain besar, tak ada yang bisa menyentuhnya, kuat bekingnya itu,” ungkap sumber.

Sumber juga merinci kalau kebutuhan elpiji non subsidi di Kota Medan dan Deliserdang disuplai oleh SY, harganya pun murah. Untuk elpiji tabung 12 Kg warna biru Cuma 120 ribu.

Padal Harga Eceran Terendah (HET) Pertamina adalah Rp137 ribu-Rp139 ribu, begitu juga untuk buten atau elpiji tabung 50 Kg harganya di bawah HET.

Penjualan dengan harga itupun, SY masih untung besar, sambung sumber, sebab kalau dioplos dari elpiji subsidi 3Kg, maka tabung elpiji 12Kg bermodalkan 4 tabung elpiji subsidi.

“Kalau di kalkulasikan modalnya untung oplosan elpiji tabung 12 Kg itu, cuma 4 x Rp17ribu, yakni Rp68 ribu, untuk elpiji ukuran 12 Kg. Nah kalo dijual maka untung pertabungnya berarti Rp50 ribuan.  

Sementara SY yang dihubungi via seluler belum berbalas. Konfirmasi yang dilayangkan lewat Chatting WhasApp, sampai berita ini ditayangkan belum juga berjawab.

Terkait hal itu, ketika dikonfirmasi Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan, kalau dirinya sedang berada di Aceh.

“Bang komunikasi saja sama atasan saya di Medan, atau tunggu saya balik hari jumat,” katanya lewat WhatsApp, menanggapi informasi dugaan pengoplosan itu. (laung).

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *