Soal Bobby “Ngetuk” Mentri Dicibir, Hamdan: Pertanda Kekuasaan Oligarki

editor -99 views
Hamdan Noor Manik
Hamdan Noor Manik

      

Medan|MediatorPost: Pernyataan Calon Walikota Medan Bobby Nasution, tak malu “ngetuk” pintu menteri demi kepentingan warga Medan, saat deklarasi  ustaz-ustazah Al-Washliyah, Selasa (29/09). Belakangan bergulir jadi cibiran.

Bahkan parahnya ucapan menantu presiden itu, dipandang pengamat sosial sebagai bentuk kekuasaan oligarki atau bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat.

“Apa yang disebutkan Calon Walikota Medan Bobby Nasution saat kegiatan pendeklarasian ustaz-ustazah Alwashliyah tersebut merupakan bentuk atau pertanda gambaran kekuasaan oligarik,” kata pengamat Sosial dan Budaya Hamdan Noor Manik, Minggu, (04/10/2020).

Apalagi terang pria yang akrab disapa Hamda itu, bahwa menteri dalam tatanan negara dan diatur UU Dasar Negara Republik Indoensai adalah jabatan yang yang fungsinya untuk membantu presiden.

“Artinya hanya presiden dan wakil yang bisa memberikan perintah kepada seluruh menteri yang ada dikabinetnya, dan para menteri menjalankan tugasnya atas nama presiden,” ungkap Hamndan.

Kalaulah menteri diketuk oleh walikota seperti yang disebutkan Calon Walikota Medan Bobby Nasution baru-baru ini. “Menunjukkan bahwa menantu Jokowi itu bukan mau membangun Medan secara demokratis, namun disinyalir bertujuan membangun oligarki,” ulas Hamdan.

Dirincinya, bentuk kekuasaan oligarki sangat bertolak belakang dengan sistem demokrasi di Negara Indonesia, khususnya Kota Medan.  “Jadi ada kesan kalau Pilkada Kota Medan cuma dijadikan sarana untuk membangun oligarki,” tandasnya.

Sehingga pilkada, lanjut Hamdan, yang hakikinya memilih Kepala Daerah adalah rakyat. Namun akan tersekat oleh kelompok elit di negeri ini.  “Bisa saja itu dilakukan lewat mengutak-atik elemen-elemen yang terlibat dalam Pilkada 2020,  baik itu pengusung, penyelenggara, pengawas maupun institusi negara lainnya,” terang Hamdan.  

Dia menyebutkan, sosial masyarkat Kota Medan yang multi etnis, suku dan agama merupakan cerminan dari kehidupan berdemokrasi yang tertuang dalam dasar negara Pancasila. “Maka pada hakikinya oligarki tertolak di tengah kehidupan masyarakat ibukota Provinsi Sumut ini,” tega Hamdan.

Selain itu pula, dari pernyataan tersebut juga menyumbangkan sinyalemen bahwa menantu Joko Widodo belum paham tentang tatanan negara. “Artinya juga bahwa Bobby Nasution masih terlalu muda  untuk menakhodai Pemerintah Kota Medan ini,” tukas Hamdan.      

Untuk itu, bilang Hamdan, syogianya masyarakat Kota Medan lebih cerdas menggunakan hak suaranya agar di ibukota Provinsi Sumatera Utara ini terpelihara kultur demokrasi yang sejak zaman dahulu telah tertanam. “Dimana demokrasi itu ditandai dengan kehidupan yang beragam suku budaya, etnis dan agama,” ulasnya.

Kemudian jelas Hamdan, figur Bobby juga terbilang masih muda untuk bisa memimpin Kota Medan. “Apalagi secara politis dan karir birokrasi juga tak punya pengalaman, khususnya untuk menakhodai pemerintahan Kota Medan,” ungkapnya.

Sekadar mengigatkan, pada Selasa (29/09, kelompok ustaz-ustazah Al-Washliyah di Medan mendeklarasikan dukungan kepada calon Wali Kota Medan, Bobby Nasution. Dalam acara ini, Bobby mengaku tak akan malu menelepon menteri demi kepentingan warga Medan jika menang pilkada.

Kegiatan itu dinisiasi oleh Koordinator Relawan Munajat Medan Berkah yang juga Sekretaris Al-Washliyah Sumut Alim Nur Nasution.

Dalam sambutan itu Bobby mengaitkan ucapan Alim Nur tentang dirinya yang dinilai bisa saja meminta proyek ke menteri namun tak melakukannya. Bobby mengaku tetap tak akan meminta proyek jika terpilih, namun bakal meminta kuota Program Keluarga Harapan (PKH) di Medan ditambah oleh kementerian terkait.

Bobby mengatakan, selain dirinya, anak-anak Jokowi yang lain juga tidak pernah minta jatah proyek kepada menteri. Namun, katanya, dia tak akan malu menelepon menteri untuk kepentingan warga Medan.

“Alhamdulillah, yang saya bilang tadi nikmat yang luar biasa, saya, abang ipar saya, adik ipar saya, istri saya, nggak pernah main-main seperti itu, Ustaz. Saya pribadi nggak bakal malu ngetuk ke kantor menteri, nelepon menteri istilahnya, untuk masyarakat Kota Medan,” jelasnya. (anto)

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *