Tidak Pakai Plang, Proyek Rabat Beton ‘Dikuliti’ tak Sesuai Bestek

editor -33 views
Proyek Rabat Beton di Jl lIntas Asam Jawa-Teluk Panji, Desa Pangarungan, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) Sumatera Utara (Sumut)
Proyek Rabat Beton di Jl lIntas Asam Jawa-Teluk Panji, Desa Pangarungan, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) Sumatera Utara (Sumut)

Labuhanbatu|MediatorPost: Perwajahan muram berbau aroma korup alias dugaan korupsi proyek rabat beton di Jl lIntas Asam Jawa-Teluk Panji, Desa Pangarungan, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) Sumatera Utara (Sumut) menyeruak.

Selain tak memasang papan nama atau plang proyek,  sehingga menguap dugaan melanggar aturan dan perundang-udangan. Belakangan bikin elemen masyarakat gerah, hingga berujung menguliti alias mengupas proyek yang gunakan duit rakyat itu, diduga tak sesuai bestek dan merugikan negara.

Uraian hal ikhwal di atas itu, setidaknya diperoleh dari investigasi kru media, hingga Selasa (22/09/2020). Berawal dari investigasi di lokasi, tampak  kalau kegiatan pekerjaan rabat beton Jl lintas Asam Jawa Teluk Panji Kabupaten Labusel tak memasang papan nama atau plang proyek.

Dari lokasi titik awal dimulainya pekerjaan rabat beton di lokasi proyek itu, hingga ke titik  pekerjaan rabat beton yang sedang dilaksanakan, tak terlihat adanya plang proyek. Hanya, kegiatan para pekerja di proyek rabat beton itu dan alat pengaduk semen serta kelengkapan lainnya yang terlihat.

Heri, (40), Warga Kisaran  salah seorang pekerja di proyek itu mengatakan, jika bahan rabat beton sepanjang lebih kurang 700 m dan lebar 5.5 m tersebut, digunakan batu pecahan. “Ini batu pecahan bang dan dicampur Sertu (Pasir dan batu) dimana materialnya berasal dari aek buru,” ungkapnya tanpa merinci batu pecah diperoleh dari klaser illegal atau tidak.

Dia juga merinci kalau dirinya telah menerima batu pecah puluhan dump truck.  “Saya telah menerima 80 damp trcuk untuk keperluan di lokasi yang saya tangani, namun untuk info batu pecah itu lebih lanjut, tanya saja yang menyuruh saya kerja, bernama Dedy,” ungkap Heri

Sayangnya ketika dikofirmasi Dedy dari sambungan seluler mengaku hanya sebagai mandor. “Saya hanya sebagai mandor bang, tak tau soal batu pecah,” kilahnya kepada kru media, sembari mengatakan kalau dirinya sedang berada di aeknabara.

Sedangkan pengecoran rabat beton proyek itu, dari pantauan dilokasi, tampak molen atau mesin pengaduk semen menggunakan kendaraan mobil pick up jenis kijang yang di modif dan di atas jok barangnya diletakkan molen manual.

Sementara pekerja di lokasi proyek rabat beton, adalah Anto (37) warga teluk panji mengatakan adukan perbandingan semen yang digunakan yaitu, pasir 13 ember, batu 15 ember dan semen 2 sak, untuk adukan satu molen, dan menggunakan air dari parit bekoan.

“Untuk adukan semen demikianlah bang,” tandas Anto, kepada kru media tanpa merinci kalau adonan batu, pasir dan semen yang dicampur sesuai dengan mutu atau uji lab atau tidak.

Prihal ketebalan lantai rabat beton, Anto juga merinci bahwa tebalnya sekira 5 cm. “Sedangkan tebal coran 30 Cm,” sebutnya perkja itu bernada polos dalam hal pekerjaan yang dilaksanakannya.

Pantauan awak media di lokasi proyek, terlihat pengecoran dilakukan separuh badan jalan dengan lebar 2.75 Cm, dan menggunakan tulang di tengah, dan tidak memakai besi ulir sepenuhnya, kemudian tidak menggunakan tikar besi.

 Menanggapi itu, Anto menjelaskan kalau tulang coran menggunakan besi beton 14 mm, dan hanya digunakan di tengah atau as jalan rabat beton. ”Benar bang, tulang hanya kita buat di tengah namun dipinggir tidak, dan setelah lima meter baru di buat tulang palang, namun untuk tikar besi kita tidak gunakan,” jelas Anto

Sayangnya, Anto tidak bersedia saat disinggung mengenai nama perusahaan yang melaksanakan pekerjaan proyek tersebut. “Saya hanya datang mengantar besi saja sebentar, kemudian kembali lagi. Kalau  PT nya bang tak tau saya, namun pemborongnya saya dengar AH, orang kota pinang,” bebernya.

Di tempat itu, Ketua LSM Barisan Rakyat Indonesia Satu (Lsm Baris) Denni Pardosi SH mengatakan, kalau ini proyek ‘siluman’ soalnya tak tersedia papan informasi yang memberikan keterangan anggaran dan pekerjaan dari institusi mana. “Serta nilai pekerjaan, apalagi masa pekerjaan,” celutuknya.

Tidak adanya papan nama dalam pekerjaan saja, itu sudah sebuah pelanggaran regulasi. “Ini saja sudah fakta nyata bahwa jelas-jelas proyeknya tesebut tak memasang plang nama,” ulasnya memberkan hal ikhwal tak dipasangnya papan proyek.     

Dia juga menilai, kalau proyek itu berbau korupsi. “Bahan batu pecahan manual yang bercampur sertu diduga tidak sesuai dengan spesifikasi yakni, pekerjaannya tidak sesuai dengan gambar atau bestek. Ada yang aneh terkait pondasinya yang mana besi ulirnya tak seragam, begitu juga tikar besi,” tukasnya.

Denni Pardosi SH juga menambahkan, sebagai sosial kontrol pihaknya akan mengadukan dugaan Proyek Siluman tersebut, ke Kejari Labuhanbatu dan ke Instansi terkait. “Kita akan menyurati dugaan Proyek Siluman ini, untuk mengadukan indikasi ketidaksesuaian spesifikasi dan bestek,” tandasnya. (Nhb)

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *