Tercatat 25 Kasus Kecelakaan, Humas KAI: Penerobos Nengnong Didenda Rp750 Ribu

editor -5 views
Kecelakaan perlintasan kereta api. Ist
Kecelakaan perlintasan kereta api. Ist

Medan|MediatorPost: Angka kecelakaan lalulintas di Kota Medan, dalam kurun waktu 1 tahun, persisnya  hingga Oktober 2020, jalur kereta api masih menyumbangkan korban, tercatat sebanyak 25 kasus.

Mengingatkan itu, Manager Humas PT KAI DIVRE I Sumut Mahendro Trang Bawono juga memberikan ketigasan dan me-warning penerobos nengnong, atau rambu lalulintas jalur sebidang kereta api, akan diberikan sanks 3 kurangan atau dendan Rp750 ribu. 

“Angka kecelakaan ini tergolong cukup tinggi mengingat PT KAI sempat menghentikan pengoperasian jalur kereta api selama beberapa bulan akibat pandemi Covid-19,” ungkap Mahendro, Kamis (15/10/2020).

Dalam hal meminimalisir angka kecelakaan di perlintasan kereta api, lanjut Mahendro, diingatkan pengendara untuk mendahulukan kereta api melintas dan berhenti di belakang palang rel kereta api alias lampu nengnong.

Agar terhindari dari kecelakaan, sambung Mahendro, pengguna jalan diwajibkan menaati aturan, dengan berhenti ketika sinyal sudah berbunyi dan palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan atau ada isyarat lain.

“Pengguna jalan juga wajib mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel,” ujarnya.

Tak sampai di situ, Mahendro juga menegaskan, para pengendara nakal yang menerobos perlintasan rel akan dijatuhkan sanksi hukuman sesuai dengan UU No 22 Tahun 2009.

Adapun sanksi yang diberikan, yaitu setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan yang tidak berhenti ketika tanda sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, maka akan dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu

Kembali ke kasus kecelakaan, Mahendro  membeberkan, bahwa angka kecelakaan tersebut didominasi oleh masyarakat yang minim kesadaran untuk berlalu lintas di perlintasan kereta api.

“Tetap masih ada masyarakat yang kurang patuh terhadap peraturan lalulintas, terutama di perlintasan sebidang kereta api. Saya lihat di sini saja, kadang sudah ditutup masih suka menerobos,” ungkap Mahendro.

Dia merinci, perlintasan sebidang kereta api, merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang. Banyaknya perlintasan sebidang di sepanjang rel karena mobilitas masyarakat pengguna kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api sangat tinggi.

Persoalan tersebut juga menjadikan perlintasan sebidang sebagai salah satu titik rawan kecelakaan. “Saat ini KAI DIVRE I SU mencatat terdapat 92 perlintasan sebidang resmi dan 252 perlintasan tidak resmi atau liar,” ulasnya, sembari menambahkan untuk Kota Medan ada 13 perlintasan sebidang resmi dan 3 perlintasan liar.

Sampai pertengahan Oktober tahun 2020, KAI DIVRE I SU telah menutup 45 perlintasan sebidang liar dengan tujuan untuk normalisasi jalur kereta api dan peningkatan keselamatan. (dra)

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *